MULAI DARI NOL

kitchenremodeling.me


MULAI DARI NOL 


Soelami Soejeod, perempuan yang mampu me narik perhatian Bob Sadino, bersedia diajak kembali ke tanah air meski tahu masa depannya mungkin tak jelas. Ia, seorang karyawati Bank Indonesia yang ditugaskan di Amerika Serikat tak keberatan meninggalkan kemapanan yang sudah ia miliki, dan mengikuti ‘kegilaan’ suaminya.

Bob Sadino kembali ke Jakarta dengan membawa dua buah mobil Mercedes. Mobil itu merupakan hasil kerjanya se lama sembilan tahun di negeri Oranye. Tiba di Jakarta, ia men jual salah satu mobil tersebut dan menggunakan uangnya un tuk membeli properti di kawasan Kemang, Jakarta Pusat.

Mobil lainnya ia gunakan sebagai taksi gelap atau ka dang-kadang sebagai mobil rental. Selama hampir setahun, Bob mencukupi kehidupan keluarga dengan cara demikian.

Suatu hari mobilnya rusak karena tertabrak. Kerusakannya cukup parah dan memerlukan biaya besar untuk memperba iki. Sayangnya, Bob tak memiliki uang sebanyak yang dibutuh kan tersebut.

Lelaki keras kepala tersebut sebenarnya dengan mudah bisa menerima bantuan dari kakak-kakaknya. Ia juga bisa saja meminta istrinya bekerja lagi untuk menalangi kehidupan me reka sementara mobil diperbaiki. Namun bukan Bob jika ia de ngan mudah menadahkan tangan.

Ia tetap melarang istrinya bekerja. “Saya kepala keluarga, maka saya lah yang bertanggung jawab memenuhi segala ke butuhan.” Bob juga menolak uang yang ditawarkan saudara saudaranya, padahal mereka mapan dan berkecukupan. Pria tersebut lebih memilih hidup miskin daripada menerima se muanya.

Pilihan hidup miskin benar-benar dijalaninya tanpa me ngeluh. Ia bekerja apa saja demi memberikan kehidupan layak bagi keluarganya. Percayakah Anda bahwa Bob Sadino, salah satu pengusaha terkaya di Indonesia, pernah menjadi kuli ba ngunan?

Nyatanya demikian. Bob tak keberatan melakukan pe kerjaan kasar tersebut. Meskipun tak pernah menjadi keahli an sebelumnya, ia menjadi kuli bangunan dari satu proyek ke proyek lain. Pekerjaannya antara lain menembok, mengecat, menggergaji kayu, mengangkat karung-karung semen dan lain sebagainya. Upahnya pun tak lebih dari beberapa ratus rupiah dalam seminggu.

Selama setahun, Bob Sadino bekerja sebagai kuli lepas. Tak ada keluhan yang keluar dari mulutnya, melainkan ucapan syukur. Ya, Bob bersyukur bisa menjalani kemelaratan. Ia me rasa sudah cukup hidup enak, dan ingin mencoba jadi orang miskin yang sebenarnya.

Beruntung sang istri selalu menjadi pendukung utama nya. Tak pernah sekalipun perempuan hebat itu berniat me ninggalkan Bob yang telah ‘membuatnya’ hidup susah. Meski hanya bisa makan seadanya, dan tak pernah tahu apakah ada uang untuk hari berikutnya, Soelami setia mendampingi Bob Sadino.

KISAH AYAM DAN TELUR 


Sekarang ini, istilah ayam kampung dan ayam broiler bukan lah sesuatu yang asing lagi di telinga orang Indonesia. Begitu pun dengan istilah telur ayam kampung dan telur ayam nege ri. Tapi, tahukah Anda jika Bob Sadino dianggap orang perta ma yang memperkenalkan istilah-istilah tersebut?

Pada sekitar tahun 60an, orang-orang Jakarta hanya me ngenal satu jenis ayam, yaitu ayam kampung. Telur ayam kampung merupakan satu-satunya jenis telur yang bisa diperoleh dan dikonsumsi di ibu kota. Minimnya akses informasi mem buat kebanyakan orang tak tahu bahwa di luar negeri jenis ayam lain sudah dipopulerkan.

Bob Sadino mungkin bukan merupakan orang pertama yang mengetahui jenis ayam tersebut, namun sudah pasti ia adalah orang pertama yang melihat peluang emas tersebut. Kawasan Kemang yang menjadi tempat tinggalnya banyak di huni orang asing yang bekerja di Indonesia. Bob berpikir un tuk mencoba menyuplai kebutuhan orang-orang asing terse but dari segi pangan. Telur ayam negeri adalah salah satu jenis pangan yang dibutuhkan oleh mereka.

Bob memutar otak. Ia menghubungi kawan baiknya di Belanda, Sri Mulyono Herlambang dan meminta bantuannya mengirim bibit ayam broiler sebanyak 50 ekor. Meski saat itu tak memiliki keahlian, Bob nekat beralih menjadi peternak ayam.

Kesukaannya membaca sangat membantu kelancaran transisi hidupnya. Dari banyak buku dan majalah berbahasa asing, dengan tekun Bob mempelajari cara beternak ayam broiler.

 “Ayam hanya diberi paruh dan dua kaki, tapi bisa cari ma kan sendiri.” Begitu pemikiran Bob Sadino.

Pemikiran inilah yang terus menjadi motivasinya. Ia terus mengasah keahlian dalam beternak ayam. Dan saat ayam ayamnya sudah menghasilkan telur, ia pun tanpa canggung menjajakan telurnya ke seputar kawasan Kemang.

Tak puas dengan hanya jualan telur, Bob pun mencoba berkebun. Pilihannya adalah tanaman-tanaman yang bisa ia jual pada orang asing, bukan tanaman yang umum ditum buhkan di Indonesia saat itu. Brokoli, paprika, sweet corn kala itu masih asing di telinga orang awam, dan Om Bob lah yang memperkenalkan pertama kali pada dunia pertanian Indone sia.

Walaupun menjadi trend-setter dalam bisnis peternakan dan hasil kebun, usaha Bob Sadino tidak semerta-merta ber jalan mulus. Banyak orang mencibir telur-telurnya, sebagian bahkan menganggap bentuk telurjualannya aneh karena lebih besar daripada telur pada umumnya. Tatapan sinis dan sindir an kasar tak jarang diterima Bob ketika memulai usahanya.

Tak pernah patah semangat, Bob dan istrinya setiap hari berkeliling menjajakan telur-telur mereka. Mengetuk satu pin tu rumah ke pintu rumah lainnya, pasangan suami istri terse but pantang menyerah.

Orang-orang asing di kawasan Kemang merupakan target pasar mereka. Bukannya sok bule, Bob hanya berpikir sederha na. Orang asing sudah lebih terbiasa dengan jenis telur ayam yang ia jajakan daripada orang-orang lokal. Dengan demikian, lebih mudah pula bagi Bob menembus peluang bisnis baru nya.

Demi menarik perhatian pelanggan, Bob mencoba beri novasi. Selain dengan terus meningkatkan mutu, ia juga me masukkan setangkai bunga Anggrek ke dalam kotak telur jualannya. Tentu saja, hal ini berhasil sebab siapa sih yang tak suka kejutan manis seperti itu? Dan kita tahu Anggrek bukan lah bunga yang murah.

Perlahan tapi pasti, branding yang diciptakan Bob menda patkan tempat di hati pelanggannya. Setiap hari pembeli te lurnya meningkat, tidak hanya di kalangan orang asing, orang lokal pun mulai bisa menerima kehadiran ‘telur aneh’ ini.

Lama kelamaan, Bob dan istrinya tak perlu lagi kelelah an berkeliling kawasan Kemang, sebab keadaan berbalik. Para pelangganlah yang kemudian mendatangi mereka un tuk mendapatkan telur-telur segar. Kondisi ini yang kemudi an membuat Bob dan istrinya sepakat untuk membuka toko ayam dan telur di rumah mereka.

Teras dan garasi rumah pun dikorbankan untuk dijadikan toko yang mereka beri nama ‘Kem Chicks’ yakni singkatan dari Kemang Chickens. Di toko ini, mereka berangsur-angsur men jual beragam produk, seperti sayuran dan kebutuhan pangan lainnya.

Kesegaran produk, kebersihan kemasan serta kenyaman an toko yang dibangun Bob dan istrinya membuat usahanya semakin terkenal. Dari sinilah Bob Sadino menancapkan ben dera perusahaan yang terus berkibar sukses hingga saat ini.

kitchenremodeling.me