Sang legenda

kitchenremodeling.me

Sang legenda


Indonesia telah kehilangan salah satu pebisnis terbaiknya. Bob Sadino meninggalkan kita semua di usia 81 tahun pada tang gal 19 Januari 2015. Banyak orang berduka atas kepergiannya, sebab hampir tak ada yang tak kenal Bob, minimal pernah mendengar namanya.

Bob tercatat sebagai orang sukses di dunia bisnis. Ia telah menjadi banyak inspirasi bagi generasi muda terutama bagi mereka yang akan atau sedang merintis bisnis. Pengusaha asal Indonesia ini dikenal dengan gayanya yang santai dan humor nya yang sarkastik ini memang sukses dengan merintis bebe rapa perusahaan. Ia memulai usahanya from zero to hero dan berhasil mengembangkan usahanya hingga sebesar sekarang.

Ya, Bob Sadino atau akrab dipanggil dengan sebutan Om Bob ini adalah salah satu contoh pengusaha sukses di Indo nesia. Pria yang setiap harinya senang mengenakan kemeja dan celana pendek, terkadang dilengkapi dengan topi koboi ini adalah pemilik perusahaan pengolahan daging, telur, dan sayuran berskala nasional bernama Kem Chick dan Kemfood.

Lahir dari keluarga yang cukup berada tak menjadikan Bob sebagai pribadi yang suka bertindak seenaknya. Sebaliknya, ia justru tekun merintis bisnis mulai dari menjajakan dagangan nya secara door to door hingga akhirnya berhasil mendirikan perusahaan besar.

Selain kisah suksesnya, orang mengenal Bob dari kali mat-kalimat motivasinya yang tajam dan lugas. Kata goblok merupakan kata yang seringkali diucapkan untuk menegas kan prinsipnya. Alih-alih merasa terhina, kebanyakan pebisnis justru senang digoblok-goblokkan oleh Bob.

Buku ini memuat 23 kalimat motivasi Bob Sadino yang pernah dipublikasikan. Kebanyakan kalimat motivasi tersebut terdengar kontroversial namun penuh makna positif dibalik nya. Motivasi-motivasi yang diambil berdasarkan pemikiran Bob Sadino ini akan dibahas dari tinjauan bisnis yang sesuai. Buku ini juga memuat memorable quotes dari Bob Sadino, dan juga tips-tips dalam menjalankan kewiraswastaan.

Penulis berharap kalimat-kalimat motivasi Bob Sadino, berikut pembahasan serta tips-tips dalam buku ini dapat me ningkatkan semangat siapa saja yang hendak memulai bis nis, atau yang sedang membutuhkan dorongan positif untuk menjalankan atau meneruskan usahanya.

Saya mau miskin ah, kata bob sadino

Titik balik 


Pengusaha terkenal itu tidak mengatakan kalimat tersebut sebagai candaan. Ia benar benar serius dan keseriusan ditunjukkan melalui tindakan nyata. Melepas segala kenyamanan yang di milikinya selama tinggal di negeri kincir angin bob kembali ke tanah air dan mencoba hidup miskin.

Kisah ini terjadi pada tahun 1967. Tahun yang menjadi ti tik balik dalam kehidupan Bob Sadino. Sejak tahun 1958, pria kelahiran Lampung tersebut sudah tinggal di Jerman dan Be landa serta bekerja di perusahaan ekspedisi Djakarta Lyod. Pepekerjaannya saat itu membuat Bob Sadino sering bepergian ke banyak negara, terutama Eropa. Ia hidup serba berkecukupan.

“Siang kerja dan malamnya pesta serta dansa. Begitu begitu aja, terus menikmati hidup,” ujar Bob menggambarkan gaya hidupnya selama tinggal di belahan Utara. Jika sebagian besar orang umumnya terlena akan gaya hi dup kelas atas seperti itu, tidak demikian dengan Bob. Semen tara menjalani kehidupan yang dipandang enak dan nyaman, batinnya berperang. Ia tak merasa bisa menikmati kehidupan nya saat itu.

“Atasan saya waktu itu goblok.” Bob menjelaskan salah satu alasan ia tak betah. Tertekan dengan atasannya, ia me mutuskan keluar dari pekerjaan, meninggalkan semua fasilitas dan kehidupan enaknya lalu kembali ke Jakarta.

ANAK GURU 


Bambang Mustari Sadino adalah nama sebenarnya dari pria yang akrab dipanggil Om Bob ini. Lahir di Tanjung Karang, Lampung 9 Maret 1933 dari ayah dan ibu berdarah Jawa.

Tak lama setelah ulang tahun pertama, orangtua Bob pin dah ke Jakarta, mengikuti pekerjaan ayahnya. Semasa hidup nya, sang ayah adalah seorang guru, yang kemudian menjadi kepala sekolah. Di masa Hindia Belanda, pekerjaan sebagai pengawai negeri membuat ayah Bob dapat mencukupi ke hidupan keluarga dengan baik.

Bob kecil tumbuh dan berkembang di lingkungan yang baik. Relatif lebih baik jika dibandingkan dengan anak-anak di sekitar rumahnya.

“Bahasanya memang tidak enak. Saya dari kecil itu berkecukupan terus.” Bob Sadino mengenang kehidupan masa kanak-kanaknya.

Kita tahu bagaimana sulitnya kehidupan masyarakat pri bumi di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Kemiskinan membuat banyak keluarga tak mampu memberi makanan bergizi pada anak-anak mereka, apalagi kesempatan berseko lah.

Kondisi yang ‘lebih baik’ inilah yang sangat disyukuri Bob Sadino hingga akhir hayatnya. Keluarganya tak pernah kesu litan dalam keuangan, dan ia sendiri juga mendapatkan pen didikan layak hingga tingkat SMA.

MENJELAJAH EROPA 


Setamat SMA, Bob Sadino bekerja di perusahaan Unilever. Belum lama bekerja, ia berhenti karena ingin kuliah. Tergoda oleh semangat teman-temannya, ia pun mendaftarkan diri di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Dasarnya Bob muda adalah seorang ‘pembosan,’ ia tak betah hanya berkutat dengan tugas-tugas kuliah. Akhirnya, ia pun kembali bekerja di Unilever, namun hanya bertahan bebe rapa lama. Resign dari perusahaan tersebut, Bob berpindah ke perusahaan Djakarta Lyod pada tahun 1950. Perusahaan yang bergerak di bidang ekspedisi dan pelayaran tersebut memba wanya melanglang buana.

Dari begitu banyak negara yang disinggahi, benua Eropa merupakan yang paling sering Bob kunjungi. Ia bahkan mene tap selama sembilan tahun di kota Amsterdam dan Hamburg.

Pria yang supel dan fasih berbahasa Belanda dan Jerman ini tak merasa kesulitan beradaptasi. Pergaulannya luas karena ia memang senang sekali bertemu banyak orang baru. Tanpa disadari, pergaulannya itu membuat Bob mengembangkan je jaring pertemanan yang menjadi salah satu aset bisnisnya di kemudian hari.

Sayangnya, kenikmatan yang didapatkan dari pergaulan tidak diikuti dengan kenikmatan di tempatnya bekerja. Bob kerap berbeda pemikiran dengan atasannya, dan hal inilah yang membuatnya tertekan dalam pekerjaan.

“Saya punya atasan, tapi atasan saya goblok, gitu lho!” ujar Bob menjelaskan situasi saat itu.

Setelah mencoba bertahan selama sembilan tahun di ba wah atasan yang membuatnya stress tersebut, Bob akhirnya memutuskan resign. Keputusan yang mungkin terasa impulsif tersebut, tidak diikuti rencana masa depan yang jelas. Padahal saat itu Bob sudah punya calon istri. Tanpa tahu apa yang ha rus dikerjakannya setelah tak punya pekerjaan, Bob mengajak pasangannya kembali ke Jakarta pada tahun 1967.