Tentang menjadi goblog#2

kitchenremodeling.me

ORANG PINTAR VS ORANG GOBLOK

Berbanding terbalik dengan apa yang dipercayai banyak orang, Bob menganggap se ringkali kecerdasan seseorang justru menghambat kesuksesan diri. Semakin sukses dan sema kin banyak bakat yang dimiliki seseorang, semakin sulit bagi orang itu menjalankan bisnis.

Bob Sadino sendiri sudah pasti orang cerdas. Jika tidak, bagaimana mungkin ia memi liki jaringan pasar swalayan ter besar di Indonesia? Lalu, apa kah pemikirannya di atas tidak bertentangan dengan kecer dasan dirinya?
Orang pintar kebanyakan ide dan akhirnya tidak ada satu pun yang jadi kenyataan. Orang goblog cuma punya satu ide dan itu jadi kenyataan.
 Secara logika, benar bahwa orang yang pandai, penuh motivasi dan berbakat merupakan calon entrepreneur terbaik. Sayangnya, dalam kehidupan nyata, acapkali tidak lah demi kian.

“Orang sekolahan diajari tahu, sedangkan orang jalanan diajari bisa.” Demikian pendapat Bob Sadino.

Terdengar aneh, bukan? Namun alasan yang melatar be lakangi pemikiran tersebut sebenarnya sangatlah sederhana dan masuk akal. Kita tengok saja kelompok anak sekolah.

Orang-orang yang cerdas memulai masalahnya saat di sekolah ketika pertama kali harus mengerjakan tugas kelom pok. Kita tahu bahwa umumnya 80% dari seluruh tugas hanya dikerjakan oleh sekitar 20% anggota kelompok. Dan apa yang kira-kira terjadi dalam setiap kelompok adalah siswa terpintar dan paling berbakat biasanya adalah yang melakukan pemba gian tugas.

Siswa-siswa terpintar dalam kelompok tidak ingin meng ambil risiko apabila ranking kelas mereka turun. Apalagi jika di dalam kelompok terdapat siswa yang sering bolos atau terti dur di kelas. Siswa-siswa terpintar ini umumnya tidak berharap banyak dari mereka, dan memutuskan mengambil alih atau melakukan seluruh tugas sendiri.

Dari sinilah siklus tak berkesudahan orang-orang pintar dimulai. Siswa-siswa paling pintar di sekolah cenderung me lakukan banyak hal dengan lebih baik. Mereka mengerjakan tugas dengan lebih baik, memahami pelajaran dan mendapat kan nilai yang lebih baik daripada siswa lain. Mereka memang akan selalu lebih baik daripada siapapun, hingga sampai ke masalah bisnis. Di titik inilah umumnya mereka tidak lebih baik daripada orang lain. Bisa dikatakan, mereka kacau.

Hanya ada 24 jam dalam sehari dan setiap orang butuh tidur, makan, mandi dan melakukan hal-hal lain. Jadi, jika se tiap hari orang-orang pintar ini mencoba untuk melakukan semuanya sendiri, sebab tak tahan jika orang lain melakukan tak sesuai standarnya, ia akan terbiasa dengan gaya kerja one man-show. Gaya kerja semacam inilah yang jarang berhasil diaplikasikan saat menjalankan bisnis.

Menariknya, orang-orang goblok dapat menjadi entrepre neur yang lebih daripada orang pintar. Apa yang menyebab kan hal demikian? Menyadari inkompetensinya, orang-orang goblok menutupi ketidakmampuannya dengan mendelegasi kan pekerjaan. Mereka juga belajar bagaimana berkomunikasi dengan orang lain secara baik dan meyakinkan mereka agar membantu melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak mam pu mereka lakukan.

Kemampuan mendelegasi dan berkomunikasi dengan baik merupakan aset besar dalam dunia bisnis. Sebuah bisnis bisa berjalan lancar apabila owner mampu meyakinkan para karyawan untuk melakukan tugas-tugas mereka. Selain itu, komunikasi yang baik membangun kepercayaan antara pemi lik bisnis dan para karyawan.

Orang-orang cerdas yang terbiasa melakukan semua hal sendiri tidak memiliki waktu melatih skill ini. Mereka TAHU banyak hal namun kesulitan menyampaikan pengetahuannya kepada orang lain. Sementara, orang goblok mungkin hanya tahu sedikit tentang ini dan itu, dan karenanya mereka terbiasa untuk BISA mengaplikasikan pengetahuan yang sedikit itu untuk bertahan hidup.

Persis seperti Bob Sadino. Ia bukanlah ahli ternak, tak per nah belajar tentang peternakan atau pertanian. Ia pun tak per nah secara khusus belajar bisnis, sehingga tak pernah kenal dengan istilah-istilah marketing seperti branding, target pasar, analisa pasar, market educating dan lain sebagainya.

Pengetahuan mengenai semua itu didapatkan dari ma jalah-majalah yang dibacanya. Ia tak suka berteori, tak suka menganalisa, tak suka memikirkan terlalu jauh mengenai profit dan loss. Ia hanya menjalankan pengetahuannya yang hanya sedikit, menambahkannya dengan keterampilan komunikasi dan mendelegasikan tugas. Hasilnya? Sebuah bisnis raksasa yang mampu bertahan hingga puluhan tahun.

kitchenremodeling.me